Kanker Kolon

Pengertian :

Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya (Gale, 2000 : 177).

Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial dari colon (Brooker, 2001 : 72).

Kanker kolon/usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum (Boyle & Langman, 2000 : 805).

Kanker kolon adalah pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh pada kolon dan menginvasi jaringan sekitarnya (Tambayong, 2000 : 143).Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kanker kolon adalah suatu pertumbuhan tumor yang bersifat ganas dan merusak sel DNA dan jaringan sehat disekitar kolon (usus besar).

Baca Juga Colon Carcinoma
»»  READMORE...

Colon Carcinoma

A Colon carcinoma is a disease in which malignant (cancer) cells form in the tissues of the colon.

The colon is part of the body's digestive system. The digestive system removes and processes nutrients (vitamins, minerals, carbohydrates, fats, proteins, and water) from foods and helps pass waste material out of the body. The digestive system is made up of the esophagus, stomach, and the small and large intestines. The first 6 feet of the large intestine are called the large bowel or colon. The last 6 inches are the rectum and the anal canal. The anal canal ends at the anus (the opening of the large intestine to the outside of the body).

Age and health history can affect the risk of developing colon carcinoma .

Risk factors include the following:

  • Age 50 or older.
  • A family history of carcinoma of the colon or rectum.
  • A personal history of carcinoma of the colon, rectum, ovary, endometrium, or breast.
  • A history of polyps in the colon.

These and other symptoms may be caused by colon carcinoma

Other conditions may cause the same symptoms. A doctor should be consulted if any of the following problems occur:

  • A change in bowel habits.
  • Blood (either bright red or very dark) in the stool.
  • Diarrhea, constipation, or feeling that the bowel does not empty completely.
  • Stools that are narrower than usual.
  • Frequent gas pains, bloating, fullness, or cramps.
  • Weight loss for no known reason.
  • Feeling very tired.
  • Vomiting.


Read Kanker Kolon

Source : www.coloncarcinoma.com/
»»  READMORE...

Penyakit Jantung Koroner

A. Pengertian

Penyakit jantung koroner/ penyakit arteri koroner (penyakit jantung artherostrofik) merupakan suatu manifestasi khusus dan arterosclerosis pada arteri koroner. Plaque terbentuk pada percabangan arteri yang ke arah aterion kiri, arteri koronaria kanan dan agak jarang pada arteri sirromflex. Aliran darah ke distal dapat mengalami obstruksi secara permanen maupun sementara yang di sebabkan oleh akumulasi plaque atau penggumpalan. Sirkulasi kolateral berkembang di sekitar obstruksi arteromasus yang menghambat pertukaran gas dan nutrisi ke miokardium.

Kegagalan sirkulasi kolateral untuk menyediakan supply oksigen yang adekuat ke sel yang berakibat terjadinya penyakit arteri koronaria, gangguan aliran darah karena obstruksi tidak permanen (angina pektoris dan angina preinfark) dan obstruksi permanen (miocard infarct) Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Dep.kes, 1993.


B. Resiko dan insidensi

Penyakit arteri koronaria merupakan masalah kesehatan yang paling lazim dan merupakan penyebab utama kematian di USA. Walaupun data epidemiologi menunjukan perubahan resiko dan angka kematian penyakit ini tetap merupakan tantangan bagi tenaga kesehatan untuk mengadakan upaya pencegahan dan penanganan. Penyakit jantung iskemik banyak di alami oleh individu berusia yang berusia 40-70 tahun dengan angka kematian 20 %. (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Dep.kes, 1993).

Faktor resiko yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner dapat di golongkan secara logis sebagai berikut :
  1. Sifat pribadi Aterogenik.
    Sifat aterogenik mencakup lipid darah, tekanan darah dan diabetes melitus. Faktor ini bersama-sama berperan besar dalam menentuak kecepatan artero- genensis (Kaplan & Stamler, 1991).

  2. Kebiasaan hidup atau faktor lingkungan yang tak di tentukan semaunya.
    Gaya hidup yang mempredisposisi individu ke penyakit jantung koroner adalah diet yang terlalu kaya dengan kalori, lemak jenuh, kolesterol, garam serta oleh kelambanan fisik, penambahan berat badan yang tak terkendalikan, merokok sigaret dan penyalah gunaan alkohol (Kaplan & Stamler, 1991).

  3. Faktor resiko kecil dan lainnya.
    Karena faktor resiko yang di tetapkan akhir-akhir ini tidak tampak menjelaskan keseluruhan perbedaan dalam kematian karena penyakit jantung koroner, maka ada kecurigaan ada faktor resiko utama yang tak diketahui bernar-benar ada.
    Berbagai faktor resiko yang ada antara lain kontrasepsi oral, kerentanan hospes, umur dan jenis kelamin (Kaplan & Stamler, 1991).

C. Patofisiologi

Penyakit jantung koroner dan micardiail infark merupakan respons iskemik dari miokardium yang di sebabkan oleh penyempitan arteri koronaria secara permanen atau tidak permanen. Oksigen di perlukan oleh sel-sel miokardial, untuk metabolisme aerob di mana Adenosine Triphospate di bebaskan untuk energi jantung pada saat istirahat membutuhakn 70 % oksigen. Banyaknya oksigen yang di perlukan untuk kerja jantung di sebut sebagai Myocardial Oxygen Cunsumption (MVO2), yang dinyatakan oleh percepatan jantung, kontraksi miocardial dan tekanan pada dinding jantung.

Jantung yang normal dapat dengan mudah menyesuaikan terhadap peningkatan tuntutan tekanan oksigen dangan menambah percepatan dan kontraksi untuk menekan volume darah ke sekat-sekat jantung. Pada jantung yang mengalami obstruksi aliran darah miocardial, suplai darah tidak dapat mencukupi terhadap tuntutan yang terjadi. Keadaan adanya obstruksi letal maupun sebagian dapat menyebabkan anoksia dan suatu kondisi menyerupai glikolisis aerobic berupaya memenuhi kebutuhan oksigen.

Penimbunan asam laktat merupakan akibat dari glikolisis aerobik yang dapat sebagai predisposisi terjadinya disritmia dan kegagalan jantung. Hipokromia dan asidosis laktat mengganggu fungsi ventrikel. Kekuatan kontraksi menurun, gerakan dinding segmen iskemik menjadi hipokinetik.

Kegagalan ventrikel kiri menyebabkan penurunan stroke volume, pengurangan cardiac out put, peningkatan ventrikel kiri pada saat tekanan akhir diastole dan tekanan desakan pada arteri pulmonalis serta tanda-tanda kegagalan jantung.

Kelanjutan dan iskemia tergantung pada obstruksi pada arteri koronaria (permanen atau semntara), lokasi serta ukurannya. Tiga menifestasi dari iskemi miocardial adalah angina pectoris, penyempitan arteri koronarius sementara, preinfarksi angina, dan miocardial infark atau obstruksi permanen pada arteri koronari (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Dep.kes, 1993).


D. Mekanisme hipertensi meningkatkan resiko

Bila kebanyakan pembacaan tekanan diastole tetap pada atau di atas 90 mmHg setelah 6-12 bulan tanpa terapi obat, maka orang itu di anggap hipertensi dan resiko tambahan bagi penyakit jantung koroner.

Secara sederhana di katakan peningkatan tekanan darh mempercepat arterosklerosis dan arteriosklerosis sehinggan ruptur dan oklusi vaskuler terjadi sekitar 20 tahu lebih cepat daripada orang dengan normotensi. Sebagian mekanisme terlibat dalam proses peningkatan tekanan darah yang mengkibatkan perubahan struktur di dalam pembuluh darah, tetapi tekaan dalam beberpa cara terlibat langusng. Akibatnya, lebih tinggi tekanan darah, lebih besar jumlah kerusakan vaskular.
»»  READMORE...

Osteomalasia


Pengertian

Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang dikarakteristikkan oleh kurangnya mineral dari tulang (menyerupai penyakit yang menyerang anak-anak yang disebut rickets) pada orang dewasa, osteomalasia berlangsung kronis dan terjadi deformitas skeletal, terjadi tidak separah dengan yang menyerang anak-anak karena pada orang dewasa pertumbuhan tulang sudah lengkap (komplit).


Penyebab

Penyebabnya ditandai dengan keadaan kekurangan vitamin D (calcitrol), dimana terjadi peningkatan absorbsi kalsium dari sistem pencernaan dan penyediaan mineral dari tulang. penyediaan calsium dan phosfat dalam cairan eksta seluler lambat. Tanpa adekuatnya vitamin D, kalsium dan fosfat tidak akan terjadi di tempat pembentukan kalsium dalam tulang.


Patofisiologi

Ada berbagai macam penyebab dari osteomalasia yang umumnya menyebabkan gangguan metabolisme mineral. Faktor yang berbahaya untuk perkembangan osteomalasia diantaranya kesalahan diet, malabsorbsi, gastrectomy, gagal ginjal kronik, terapi anticonvulsan jangka lama (phenyton, phenobarbital) dan insufisiensi vitamin D (diet, sinar matahari).

Tipe malnutrisi (defisiensi vitamin D sering digolongkan dalam hal kekurangan calsium) terutama gangguan fungsi menuju kerusakan, tetapi faktor makanan dan kurangnya pengetahuan tentang nutrisi yang juga dapat menjadi faktor pencetus hal itu terjadi dengan frekuensi tersering dimana kandungan vitamin D dalam makanan kurang dan adanya kesalahan diet serta kurangnya sinar matahari.

Osteomalasia kemungkinan terjadi sebagai akibat dari kegagalan dari absorbsi calsium atau kekurangan calsium dari tubuh. Gangguan gastrointestinal dimana kurangnya absorbsi lemak menyebabkan osteomalasia. Kekurangan lain selain vitamin D (semua vitamin yang larut dalam lemak) dan kalsium. Ekskresi yang paling terakhir terdapat dalam faeces bercampur dengan asam lemak (fatty acid).

Sebagai contoh dapat terjadi gangguan diantaranya celiac disease, obstruksi sistem pencernaan kronik, pankreatitis kronis dan reseksi perut yang kecil.
Lagi pula penyakit hati dan ginjal dapat menyebabkan kekurangan vitamin D, karenanya organ-organ tersebut mengubah vitamin D ke dalam untuk aktif. Terakhir, hyperparatiroid menunjang terjadinya kekurangan pembentukan calsium, dengan demikian osteomalasia menyebabkan kenaikan ekskresi fosfat dalam urine.


Manifestasi klinik

Umumnya gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah nyeri tulang dan kelemahan. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot, pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah. Kemajuan penyakit, kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang), vertebra menjadi tertekan, pemendekan batang tubuh pasien dan kelainan bentuk thoraks (kifosis).

Lihat Juga Osteomalacia

»»  READMORE...

Pseudomenorrea

Pseudomenorrea

Suatu keadaan haid tetapi darah haid tersebut tidak dapat keluar, karena tertutupnya leher rahim, vagina atau selaput dara.

Penyebab
  • Kongenital, yaitu suatu keadaan dimana selaput dara tidak berlubang

  • Acquisita, yaitu suatu keadaan dimana terjadi perlekatan saluran leher rahim atau vagina akibat adanya radang, gonorrhea, Diptheri.

Tanda dan gejala
  • Nyeri + 5 hari tanpa pendarahan
  • Pada pemeriksaan terlihat sel darah menonjol berwarna kebiru-biruan karena adanya darah yang berkumpul dibelakangnya.

Komplikasi
  • Hematokolpos, yaitu darah masuk dan berkumpul dalam vagina.

  • Hematometra, yaitu darah masuk dan terkumpul dalam rahim.

  • Hematosalping, yaitu darah masuk dan terkumpul dalam tubuh.
»»  READMORE...

Menstruasi Praecox

Menstruasi Praecox

Perdarahan pada anak muda kurang dari 8 – 10 tahun yang disertai dengan tumbuhnya rambut kelamin, pertumbuhan buah dada.

Klasifikasi dan penyebab, dapat dibagi menjadi :
  • Pubertas praecox yang disertai terbentuknya hormon gonadotropin dan dapat menimbulkan kehamilan.

  • Pseudo pubertas praecox yaitu tidak adanya hormon gonadotropin.
»»  READMORE...

Gangguan / Kelainan Menstruasi (Haid)

Gangguan / Kelainan Menstruasi / Haid yang biasanya dijumpai dapat berupa kelainan siklus atau kelainan dari jumlah darah yang dikeluarkan dan lamanya perdarahan. Kelainan menstruasi tersebut antara lain :

1. PMS (PRE MENSTRUAL SYNDROM )

PMS merupakan sejumlah perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari ke-2 sampai hari ke-4 sebelum menstruasi dan segera mereda setelah menstruasi dimulai.

Disebabkan oleh :
  • Sekresi estrogen yang abnormal
  • Kelebihan atau defisiensi progesteron
  • Kelebihan atau defisiensi kortisol, androgen, atau prolaktin
  • Kelebihan hormon anti diuresis
  • Kelebihan atau defisiensi prostaglandin
Gejala-gejala yang sering ditemukan :
  • Perasaan malas bergerak, badan terasa lemas
  • Kenaikan berat badan
  • Sukar berkonsentrasi
  • Kelelahan
  • Perubahan suasana hati
Penatalaksanaan PMS antara lain :
  • Diet harian à Makan makanan dalam porsi kecil, batasi konsumsi gula, garam, alcohol,nikotin, pemberian vit B6, Calsium, magnesium, melakukan olahraga dan aktfitas lainnya.
  • Obat à - pil kontrasepsi oral/ progestin misal: medroksiprogesteron asetat
    • NSAIDs, misal : aspirin,naproksen, indometasin, asam mefenamat
    • Progesteron, dengan injeksi


2. AMENORRHOE

Suatu keadaan tidak adanya haid, selam 3 bulan atau lebih. Yang terbagi atas :
  1. Amenorrhoe Primer, yaitu seorang wanita pada usia 18 tahun belum pernah mendapatkan haid. Disebabkan oleh kelainan kongenital dan kelainan genetik.

  2. Amenorrhoe Sekunder, yaitu seorang wanita tidak mendapatkan haid, tetapi sebelumnya pernah mengalami haid dengan siklus yang teratur. Disebabkan oleh gangguan gizi, gangguan metabolisme, tumor, dan penyakit infeksi.

  3. Amenorrhoe Fisiologis, dapat terjadi :
    • Sebelum pubertas
    • Dalam kehamilan
    • Dalam masa menyusui, kalau tidak menyusukan haid datang + 3 bulan setelah melahirkan, kalau menyusui dalam 6 bulan setelah melahirkan.
    • Dalam menopause


3. PSEUDOMENORROE

Suatu keadaan haid tetapi darah haid tersebut tidak dapat keluar, karena tertutupnya leher rahim, vagina atau selaput dara.

Penyebab :
  1. Kongenital, yaitu suatu keadaan dimana selaput dara tidak berlubang

  2. Acquisita, yaitu suatu keadaan dimana terjadi perlekatan saluran leher rahim atau vagina akibat adanya radang, gonorrhea, Diptheri.
Tanda dan gejala
  • Nyeri + 5 hari tanpa pendarahan
  • Pada pemeriksaan terlihat sel darah menonjol berwarna kebiru-biruan karena adanya darah yang berkumpul dibelakangnya.
Komplikasi
  • Hematokolpos, yaitu darah masuk dan berkumpul dalam vagina.
  • Hematometra, yaitu darah masuk dan terkumpul dalam rahim.
  • Hematosalping, yaitu darah masuk dan terkumpul dalam tubuh.


4. MENSTRUASI PRAECOX

Perdarahan pada anak muda kurang dari 8 – 10 tahun yang disertai dengan tumbuhnya rambut kelamin, pertumbuhan buah dada.

Klasifikasi dan penyebab , dapat dibagi menjadi :
  1. Pubertas praecox yang disertai terbentuknya hormon gonadotropin dan dapat menimbulkan kehamilan.

  2. Pseudo pubertas praecox yaitu tidak adanya hormon gonadotropin.


5. HYPOMENORHOE

Suatu keadaan dimana perdarahan haid lebih pendek atau lebih kurang dari biasanya.

Lama perdarahan

Secara normal haid sudah terhenti dalam 7 hari. Kalau haid lebih lama dari 7 hari maka daya regenerasi selaput lendir kurang. Misal pada endometritis, mioma.

Penyebab

Setelah dilakukan miomektomi/ gangguan endokrin

Tanda dan Gejala

Waktu haid singkat, perdarahan haid singkat


6. OLIGOMENORRHOE

Suatu keadaan dimana haid jarang terjadi dan siklusnya panjang lebih dari 35 hari

Penyebab
  • Perpanjangan stadium folikuler ( lamanya 8 -9 hari dimulai dari hari ke-5 menstruasi )
  • Perpanjangan stadium luteal ( lamanya 15 -18 hari setelah ovulasi )
  • Kedua stadium diatas panjang yang mengakibatkan perpanjangan siklus haid.

Tanda dan Gejala
  • Haid jarang, yaitu setiap 35 hari sekali
  • Perdarahan haid biasanya berkurang


7. HIPERMENORRHOE / MENORRHAGIA

Perdarahan haid yang lebih banyak dari normal dan lebih lama disertai dengan adanya bekuan darah tetapi siklus teratur.

Penyebab
  • Terlalu lelah
  • Mioma uteri
  • Hipertensi
  • Penyakit jantung
  • Endometritis
  • Hemofili (penyakit darah)
Tanda dan Gejala
  • Waktu haid panjang 7 – 8 hari
  • Perdarahan haid terlalu banyak disertai bekuan darah; Siklus haid teratur


8. POLIMENORRHOE

Suatu keadaan dimana haid sering terjadi karena siklus yang pendek kurang dari 21 hari.

Penyebab
  • Gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan ovulasi atau masa subur
  • Kelainan ovarium karena peradangan, endometriosis.


9. METRORRHAGIA

Suatu keadaan dimana perdarahan yang tidak teratur dan tidak ada hubungannya dengan masa haid karena terjadi diantara dua haid.

Penggolongan
  1. Disebabkan oleh kehamilan seperti : abortus, kehamilan ektopik

  2. Metrorrhagia di luar kehamilan :
    • Karena luka yang tidak sembuh :
      • Pada wanita menopause, wanita tanpa anak
      • Pada wanita yang mempunyai anak banyak
    • Peradangan endometritis
    • Pengaruh hormonal


10. DISMENORRHOE

Nyeri pada perut bagian bawah sebelum dan sesudah haid dapat bersifat kolik terus-menerus. Nyeri diduga karena kontraksi rahim.

Penggolongan
  1. Dismenorrhoe primer, yaitu sejak menstruasi pertama kali, nyeri dan tidak ada kelainan dari alat kandungan.

  2. Dismenorrhoe sekunder, yaitu nyeri haid yang terjadi kemudian, biasanya terdapat kelainan dari alat kandungan.

Penyebab
  1. Dismenorrhoe primer :
    • Psikis
    • Anemia,Tbc, kelelahan
    • Servik sempit
    • Endokrin

  2. Dismenorrhoe sekunder
    Terjadi pada :
    • Infeksi : nyeri sudah terasa sebelum haid
    • Nyeri bersifat kolik
    • Nyeri disebabkan oleh tekanan tumor, nyeri masih ada setelah haid berhenti.
Tanda dan gejala
  • Rasa tidak enak di perut bawah sebelum dan selama haid, kadang-kadang menyebar ke daerah pinggang dan paha.
  • Rasa mual, muntah
  • Sakit kepala
  • Diare
  • Rasa sakit seperti kejang berjangkit-jangkit.
Pencegahan keram
  • Olah raga ringan
  • Tehnik Relaksasi
Pengobatan
  • Pemberian obat analgetik
  • Istirahat ditempat tidur jika nyeri hebat
  • Beri kompres hangat pada perut bawah untuk mengurangi rasa sakit
  • Rendam air hangat
  • Gosok daerah perut dengan tangan secara perlahan-lahan

Sumber : ns-nining.blogspot.com
»»  READMORE...

Angiofibroma

Pengertian

Angiofibroma nasofaring belia adalah sebuah tumor jinak nasofaring yang cenderung menimbulkan perdarahan yang sulit dihentikan dan terjadi pada laki-laki prepubertas dan remaja.

Angiofibroma nasofaring belia merupakan neoplasma vaskuler yang terjadi hanya ada laki-laki, biasanya selama masa prepubertas dan remaja
Umumnya terdapat pada rentang usia 7 s/d 21 tahun dengan insidens terbanyak antara usia 14-18 tahun dan jarang pada usia diatas 25 tahun.
Tumor ini merupakan tumor jinak nasofaring terbanyak dan 0,05% dari seluruh tumor kepala dan leher.


Etiologi

Etiologi tumor ini masih belum jelas, berbagai jenis teori banyak diajukan. Diantaranya teori jaringan asal dan faktor ketidak-seimbangan hormonal.
Secara histopatologi tumor ini termasuk jinak tetapi secara klinis ganas karena bersifat ekspansif dan mempunyai kemampuan mendestruksi tulang. Tumor yang kaya pembuluh darah ini memperoleh aliran darah dari arteri faringealis asenden atau arteri maksilaris interna. Angiofibroma kaya dengan jaringan fibrosa yang timbul dari atap nasofaring atau bagian dalam dari fossa pterigoid. Setelah mengisi nasofaring, tumor ini meluas ke dalam sinus paranasal, rahang atas, pipi dan orbita serta dapat meluas ke intra kranial setelah mengerosi dasar tengkorak.


Tanda dan Gejala

Gejala klinik terdiri dari hidung tersumbat (80-90%); merupakan gejala yang paling sering, diikuti epistaksis (45-60%); kebanyakan unilateral dan rekuren, nyeri kepala (25%); khususnya bila sudah meluas ke sinus paranasal, pembengkakan wajah (10-18%) dan gejala lain seperti anosmia, rhinolalia, deafness, pembengkakan palatum serta deformitas pipi. Tumor ini sangat sulit untuk di palpasi, palpasi harus sangat hati-hati karena sentuhan jari pada permukaan tumor dapat menimbulkan perdarahan yang ekstensif.


Stadium Angiofibroma

Untuk menentukan perluasan tumor, dibuat sistem staging. Ada 2 sistem yang paling sering digunakan yaitu Sessions dan Fisch.

Klasifikasi menurut Sessions sebagai erikut :
  1. Stage IA : Tumor terbatas pada nares posterior dan/atau nasofaring
  2. Stage IB : Tumor melibatkan nares posterior dan/atau nasofaring dengan perluasan ke satu sinus paranasal.
  3. Stage IIA : Perluasan lateral minimal ke dalam fossa pterygomaksila.
  4. Stage IIB : Mengisi seluruh fossa pterygomaksila dengan atau tanpa erosi ke tulang orbita.
  5. Stage IIIA : Mengerosi dasar tengkorak; perluasan intrakranial yang minimal.
  6. Stage IIIB : Perluasan ke intrakranial dengan atau tanpa perluasan ke dalam sinus kavernosus.

Klasifikasi menurut Fisch :
  1. Stage I : Tumor terbatas pada kavum nasi, nasofaring tanpa destruksi tulang.
  2. Stage II :Tumor menginvasi fossa pterygomaksila, sinus paranasal dengan destruksi tulang.
  3. Stage III :Tumor menginvasi fossa infra temporal, orbita dan/atau daerah parasellar sampai sinus kavernosus.
  4. Stage IV : Tumor menginvasi sinus kavernosus, chiasma optikum dan/atau fossa pituitary.
»»  READMORE...

Add to Google Reader or HomepageAdd to My AOLPowered by FeedBurner Academic,  Learning & Educational Blogs - BlogCatalog Blog Directory TopOfBlogs Health Astaga.com lifestyle on the net Best Links